profile klaten city

Klaten city located between two cities of culture, namely Surakarta and Yogyakarta. Klaten city there are a variety of Tourism, Tourism Facilities, Traditional Arts, Traditional ceremonies etc. Some of the potential and also the door to the south gerbanbg Tourism located in Central Java.
Implementation of Tourism is very important peragnkat in regional development in the current regional autonomy, in order to create jobs, increase revenues and level the community and introduce local cultural arts and crafts area for the results to be marketed to tourists, both foreign tourists and domestic tourists. The purpose of the book is intended to Know Tourism:
a. Knowing the general description of environmental conditions and carrying capacity of physical and non physical potential of tourism and development efforts related to tourism development in the future;
b. Represents information about the tourism potential of Klaten Regency, which is an input and review of the parties concerned for the efforts to develop tourism in Klaten district;
c. In the framework of tourism development and promotion of information required to be better known by the public.
As we realize together, that the development of the tourism sector has not been as we expected, so it needs the support of all parties to actively participate in promoting tourism in Klaten district.
Profile Hopefully this can give a glimpse of Tourism in Klaten district.A. Regional monographs
Government of the Regency of Klaten was established by Law No. 22 Year 1948 Jo Law No. 13 of 1950, Jo Government Regulation No. 22 of 1950.Inaugural members DPRDS (DPRD While) was made on October 28, 1950 by Resident of Surakarta, Central Java Governor representative.Medium elections DPRDS took place on September 28, 1950, a month before the inauguration.Based on the date of inauguration DPRDS members are then used as a date October 28, 1950 anniversary date Klaten District Government.
B. Klaten Regency area is located between:
East Longitude: 110 ° 30-110 ° 45South Latitude: 7 ° 30-7 ° 45
C. Klaten district is bordered by:
- To the north dengtan Boyolali District;- To the east with Sukoharjo District;- To the south of the district of Gunung Kidul / Special Region of Yogyakarta;- To the west of the Yogyakarta Sleman district.
D. Klaten Regency area is divided into three plains:
North: Terrain slopes of Mount MerapiEast: It lies LowlandThe South: Chalk Mountain TerrainE. Distance Capital Klaten with several other cities:
Surakarta: 36 km from Jepara: 199 kmSukoharjo: 47Km Kendal: 142 kmWonogiri: 67 km Bar: 206 kmKaranganyar: 49 km Pekalongan: 213 kmSragen: 63 km Tegal: 278 kmBoyolali: 38 km Magelang: 73 kmSalatiga: 65 km Waterford: 96 kmHyderabad: 113 km Wonosobo: 135 kmDemak: 139 km Banjarnegara: 157 kmGhost: 164 km Navan: 188KmStarch: 188 km Cilacap: 228Km
F. Klaten District state is divided into three terrain:
- Terrain slopes of Mount Merapi covers an area stretching north Kemalang District, Karangnongko, Jatinom and Tulung;- Lowlands longitudinal center covers all regions in Klaten district, except a small area of ​​meruopakan plains and mountain slopes of Mount Merapi Lime;- Plain Lime mountains stretching to the south covers a small portion south of Bayat district and Cawas.
Seeing that most of its natural state are low-lying and is supported by the number of water sources, the area of ​​Klaten Regency is a potential agricultural areas so that food is a buffer for rice in Central Java and also producer of limestone, stone and sand that comes from Mount Merapi.
G. Administrative Region:
Klaten regency is divided into 26 Districts and 401 Villages / Kalurahan.
H. Population:
- The number of residents in Klaten regency until the end of 2003 amounted to 1,277,297 souls;- A year average population growth in Klaten regency 0.45 compared to 2002%

Posted in Uncategorized | Leave a comment

profile history of plaosan temple

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SEWU TAMPLE at klaten city.

Sewu temple is located just several hundret meters north east of Prambanan temple. It is a large and vast Buddhist temple including several other small temples like Lumbung, Asu, Bubrah and Lor Kulon temple.
Sewu Temple complex located in the area of Prambanan Temple Park, about 800 meters to the north of Rara Jongrang Temples. Sewu Temple is the second largest Buddhist temple in central Java after Borobudur. The fact that this temple was built near Prambanan Temple, which is a Hindu temple, indicated that the Hindus and Buddhists lived in harmony.

It is believed to be a royal temple and was one of the religious activity centers in the past. Based on the inscription dated back to 792 AD which was found in 1960, the name of the temple complex was probably “Manjus’rigrha” (The House of Manjusri). Manjusri is one of Boddhisatva in Buddhist teaching. Sewu Temple was probably built in the 8th century at the end of Rakai Panangkaran administration. Rakai Panangkaran (746 AD – 784 AD) was a popular king from the old Mataram kingdom.The temple was studied firstly by HC Cornellius in 1807. The first archeological study was done by NJ Krom in 1923.

The massive restoration was carried out from April 1, 1983 to 1993 costed 3 billion rupiah. Sewu Temple complex has 249 temples, consists of one main temple, 8 “Apit” temples and 240 “Perwara” temples. The main temple forms a polygon of 20 corners with 29 meters diameter and 30 meters high. Most of the structures were made up of andesit stone.
The main temple has 1 main room and 4 small rooms of which are doorways to the temple. The east door serves as main door to the main room. That way, the main temple faces to the east. The structure has 9 ‘roofs’, each of them forms a stupa on the top

Posted in Uncategorized | Leave a comment

LAPORAN PENDAHULUAN TENTANG SEROSIS HEPATITIS

Anatomi fisiologi hati :

Hati terbagi dalam dua belahan besar dan dibagi dalam empat lobus.
Hati ada em

This slideshow requires JavaScript.

pat pembuluh darah utama :
Ø  Arteri hepatika : pembulih darah yang masuk ke hati
Ø  Vena porta : pembuluh darah yang masuk ke hati
Ø  Vena hepatika : pembuluh darah yang keluar dari hati
Ø  Saluran empedu : pembuluh darah yang keluar dari hati.
Fungsi hati :
¨      Mengubah zat makanan yang diabsobsi dari usus dan yang disimpan disuatu tempat dalam tubuh, dikeluarkannya sesuai dengan pemakaian dalam jaringan.
¨      Mengubah zat buangan dan bahan racun untuk diekskresi dalam empedu dan urine.
¨      Menghasilkan enzim glikogenik glukose menjadi glikogen.
¨      Sekrasi empedu, garam empedu dubuat dihati dibentuk dalam sistem retikulo endotelium dialirkan ke empedu
¨      Membuat ureum
¨      Menyiapkan lemak untuk pemecahan berakhir asam karbonat dan air
PENGERTIAN
Suatu penyakit hati dimana sirkulasi makro, anatomi pembuluh darah besar dan seluruh sistem dihati mengalami perubahan atau tidak teratur dan mengalami fibrosis.
ADA 2 KLASIFIKASI SIROSIS HEPATITIS:
·         Menurut Morfologi
Secara makroskopik sirosis dibagi atas:
1.mikronodular
2.makronodular
3.campuran
Uraian :
1.sirosis mikronodular : ditandai dengan terbentuknya septa tebal teratur, di dalam septa parenkim hati mengandung nodul halus dan kecil merata tersebut seluruh lobul. Sirosis mikronodular besar nodulnya sampai 3 mm, sedangkan sirosis makronodular ada yang berubah menjadi makronodular sehingga dijumpai campuran mikro dan makronodular.
2. sirosis makronodula ditandai dengan terbentuknya septa dengan ketebalan bervariasi, mengandung nodul yang besarnya juga bervariasi ada nodul besar didalamnya ada daerah luas dengan parenkim yang masih baik atau terjadi regenerasi parenkim.
3. sirosis campuran umumnya sirosis hati adalah jenis campuran ini.
·         Etiologi meliputi:
1.      Sirosis alkoholik
2.      Sirosis bilier primer/sekunder
3.      Sirosis karena gangguan nutrisi
4.      Sirosis karena obat-obatan atau bahan kimia
5.      Sirosis karena infeksi
ETIOLOGI
Penyebab dari penyakit serosi adalah :
¨      Hepatits virus
¨      Alkoholisme
¨      Malnutrisi
¨      Serosis billiary
PATOFISIOLOGI
Hepatitis virus
Infeksi terus menerus
Necrosis
Reticulum lobus colab
Daerah parut luas
Fibrosis
SEROSIS
TANDA DAN GEJALANYA :
a. Anamnesia :
¨      Nafsu makan menurun
¨      Merasa perut tidak nyaman
¨      Mual sampai muntah
¨      Perut sering kembung sampai sakit nyeri
¨      Badan terasa lemah
¨      Berat badan menurun
b. Pemeriksaan fisik
KOMPLIKASI
Penyakit ini sering menimbulkan :
a. Perdarahan (varises eosophagus )
b. Portal sistemik encelophati
c. Achites
TES DIAGNOSTIK
  1. Laboratorium :
PENATALAKSANAAN
v  Gizi yang baik/TKTP vitamin cukup
v  Istirahat cukup sampai bed-rust
v  Batasi obat yang mengganggu hepar
v  Beri deuritik
MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN TIMBUL
  • Gangguan perfusi jarimgan jantung
  • Gangguan nutrisi
  • Gangguan rasa nyaman : nyeri abdomen
  • Gangguan volume cairan : kurant / lebih dari kebutuhan
  • Gangguan proses berfikir
  • Potensial perdarahan : oesophagus
  • Potensial penularan virus hepatitis
Posted in Uncategorized | Leave a comment

HNP ( Hernia Nucleus Pulposus )

1. Pengertian
Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus.
Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke kanalis vertebralis.
HNP (Hernia Nukleus Pulposus) yaitu : keluarnya nucleus pulposus dari discus melalui robekan annulus fibrosus keluar ke belakang/dorsal menekan medulla spinalis atau mengarah ke dorsolateral menakan saraf spinalis sehingga menimbulkan gangguan
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah penonjolan diskus inter vertabralis dengan piotusi dan nukleus kedalam kanalis spinalis pumbalis mengakibatkan penekanan pada radiks atau cauda equina.

HNP adalah suatu penekanan pada suatu serabut saraf spinal akibat dari herniasi dan nucleus hingga annulus, salah satu bagian posterior atau lateral

2. Anatomi Fisiologi

Columna vertebralis adalah pilar utama tubuh. Merupakan struktur fleksibel yang dibentuk oleh tulang-tulang tak beraturan, disebut vertebrae.
Vertebrae dikelompokkan sebagai berikut :
-     Cervicales (7)
-         Thoracicae (12)
-         Lumbales (5)
-         Sacroles (5, menyatu membentuk sacrum)
-         Coccygeae (4, 3 yang bawah biasanya menyatu)
Tulang vertebrae ini dihubungkan satu sama lainnya oleh ligamentum dan tulang rawan.
Bagian anterior columna vertebralis terdiri dari corpus vertebrae yang dihubungkan satu sama lain oleh diskus fibrokartilago yang disebut discus invertebralis dan diperkuat oleh ligamentum longitudinalis anterior dan ligamentum longitudinalis posterior.


Diskus invertebralis menyusun seperempat panjang columna vertebralis. Diskus ini paling tebal di daerah cervical dan lumbal, tempat dimana banyak terjadi gerakan columna vertebralis, dan berfungsi sebagai sendi dan shock absorber agar kolumna vertebralis tidak cedera bila terjadi trauma.
Discus intervertebralis terdiri dari lempeng rawan hyalin (Hyalin Cartilage Plate), nucleus pulposus (gel), dan annulus fibrosus. Sifat setengah cair dari nukleus pulposus, memungkinkannya berubah bentuk dan vertebrae dapat mengjungkit kedepan dan kebelakang diatas yang lain, seperti pada flexi dan ekstensi columna vertebralis.
Dengan bertambahnya usia, kadar air nucleus pulposus menurun dan diganti oleh fibrokartilago. Sehingga pada usia lanjut, diskus ini tipis dan kurang lentur, dan sukar dibedakan dari anulus.
Ligamen longitudinalis posterior di bagian L5-S1 sangat lemah, sehingga HNP sering terjadi di bagian postero lateral.
3. Penyebab
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya HNP
1.   Aliran darah ke discus berkurang
2.   Beban berat
3.   Ligamentum longitudinalis posterior menyempit
Jika beban pada discus bertambah, annulus fibrosus tidak kuat menahan nucleus pulposus (gel) akan keluar, akan timbul rasa nyeri oleh karena gel yang berada di canalis vertebralismenekan radiks.
4. Patofisiologi

Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan degeneratif yang terjadi pada proses penuaan. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setela trauma (jatuh, kecelakaan, dan stress minor berulang seperti mengangkat) kartilago dapat cedera.
Pada kebanyakan pasien, gejala trauma segera bersifat khas dan singkat, dan gejala ini disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan maupun tahun. Kemudian pada degenerasi pada diskus, kapsulnya mendorong ke arah medula spinalis atau mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap sakus dural atau terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal.
Hernia nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis berada dalam bungkusan dura. Hal ini terjadi kalau tempat herniasi di sisi lateral. Bilamana tempat herniasinya ditengah-tengah tidak ada radiks yang terkena. Lagipula,oleh karena pada tingkat L2 dan terus kebawah sudah tidak terdapat medula spinalis lagi, maka herniasi di garis tengah tidak akan menimbulkan kompresi pada kolumna anterior. Setelah terjadi hernia nukleus pulposus sisa duktus intervertebralis mengalami lisis sehingga dua korpora vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan.

Manifestasi Klinis
Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal, torakal (jarang) atau lumbal. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi, kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada struktur disekitarnya. Nyeri punggung bawah yang berat,
5. Tanda dan Gejala
1.Mati rasa, gatal dan penurunan pergerakan satu atau dua ekstremitas.

2.Nyeri tulang belakang

3.Kelemahan satu atau lebih ekstremitas

4.Kehilangan control dari anus dan atau kandung kemih sebagian atau lengkap.

Gejala Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah adanya nyeri di daerah diskus yang mengalami herniasasi didikuti dengan gejala pada daerah yang diinorvasi oleh radika spinalis yang terkena oleh diskus yang mengalami herniasasi yang berupa pengobatan nyeri kedaerah tersebut, matu rasa, kelayuan, maupun tindakan-tindakan yang bersifat protektif. Hal lain yang perlu diketahui adalah nyeri pada hernia nukleus pulposus ini diperberat dengan meningkatkan tekanan cairan intraspinal (membungkuk, mengangkat, mengejan, batuk, bersin, juga ketegangan atau spasme otot), akan berkurang jika tirah baring.
6. Komplikasi

1.RU
2.Infeksi luka
3.Kerusakan penanaman tulang setelah fusi spinal.

7. Pemeriksaan Diagnostik

  • Motoris

-         Gaya jalan yang khas, membungkuk dan miring ke sisi tungkai yang nyeri dengan fleksi di sendi panggul dan lutut, serta kaki yang berjingkat.
-         Motilitas tulang belakang lumbal yang terbatas.

  • Sensoris

-         Lipatan bokong sisi yang sakit lebih rendah dari sisi yang sehat.
-          Skoliosis dengan konkavitas ke sisi tungkai yang nyeri, sifat sementara.

Tes-tes Khusus

1. Tes Laseque (Straight Leg Raising Test = SLRT)
Tungkai penderita diangkat secara perlahan tanpa fleksi di lutut sampai sudut 90°.
2. Gangguan sensibilitas, pada bagian lateral jari ke 5 (S1), atau bagian medial dari ibu jari kaki (L5).
3. Gangguan motoris, penderita tidak dapat dorsofleksi, terutama ibu jari kaki (L5), atau plantarfleksi (S1).
Tes dorsofleksi : penderita jalan diatas tumit
Tes plantarfleksi : penderita jalan diatas jari kaki
4. Kadang-kadang terdapat gangguan autonom, yaitu retensi urine, merupakan indikasi untuk segera operasi.
5. Kadang-kadang terdapat anestesia di perincum, juga merupakan indikasi untuk operasi.
6. Tes kernique

Tes Refleks

-         Refleks tendon achilles menurun atau menghilang jika radiks antara  L5    –   S1 terkena.

Pemeriksaan Penunjang

·                  Laborat

-         Darah
Tidak spesifik
-         Urine
Tidak spesifik
-         Liquor Serebrospinalis
Biasanya normal. Jika terjadi blok akan didapatkan peningkatan kadar protein ringan dengan adanya penyakit diskus. Kecil manfaatnya untuk diagnosis.
1. RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang

2. M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal lumbal.
3. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I
4. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena.
8. Penatalaksanaan medik.

1. Pembedahan
Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit neurologik.
Macam :
a. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral

b. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks
c. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra.

d. Disektomi dengan peleburan.
2. Immobilisasi
Immobilisasi dengan mengeluarkan kolor servikal, traksi, atau brace.
3. Traksi
Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban.
4. Meredakan Nyeri
Kompres lembab panas, analgesik, sedatif, relaksan otot, obat anti inflamasi dan jika perlu kortikosteroid.

9. Pengkajian Keperawatan
1. Anamnesa
Keluhan utama, riwayat perawatan sekarang, Riwayat kesehatan dahulu, Riwayat kesehatan keluarga

2. Pemeriksaan Fisik
Pengkajian terhadap masalah pasien terdiri dari awitan, lokasi dan penyebaran nyeri, parestesia, keterbatasan gerakdan keterbatasan fungsi leher, bahu dan ekstremitas atas. Pengkajian pada daerah spinal servikal meliputi palpasi yang bertujuan untuk mengkaji tonus otot dan kekakuannya.
3. Pemeriksaan Penunjang
10. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berdasarkan Kompresi saraf, spasme otot
2. Gangguan mobilitas fisik  berdasarkan nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus
3. Ansietas berdasarkan  tidak efektifnya koping individual
4. Kurang pengetahuan berdasarkan kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis dan tindakan pengobatan.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

ASUHAN KEPERAWATAN KANKER KOLON

A. Pengertian

Tumor adalah suatu benjolan atau struktur yang menempati area tertentu pada tubuh dan merupakan neoplasma yang dapat bersifat jinak atau ganas. (FKUI, 2008: 268)
Kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang tidak teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung dijaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ketempat yang jauh (metastasis). (Gale, 2000: 177)
Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari masa abnormal/ neoplasma yang muncul dari jaringan epithelial dari kolon (Brooker, 2001:72)
Kanker kolon adalah tumbuhnya sel kanker yang ganas didalam permukaan usus besar atau rectum (boyle and langman, 2000:805)

B. Etiologi
Terdapat 3 etiologi utama kanker (davey, 2006:334), yaitu:

Diet: kebiasaan mengkonsumsi makanan yang rendah serat (sayur, buah), kebiasaan makan berlemak tinggi dan sumber protein hewani
Kelainan kolon

Adenoma dikolon: degenerasi maligna menjadi adeno karsinoma
Familial poliposis: polip diusus mengalami degenerasi maligna menjadi karsenoma
Kondisi ulserative: penderita colitis ulserativa menahun mempunyai resiko terkena karsinoma kolon

3. Genetik
Anak yang berasal dari orangtua yang menderita karsinoma kolon mempunyai frekuensi 3,5x lebih banyak dari pada anak-anak yang orangtuanya sehat (FKUI, 2001:207)
C. Patofisiologi
1. Anatomi Fisiologi KolonUsus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Pada mamalia, kolon terdiri dari kolon menanjak (ascending), kolon melintang (transverse), kolon menurun (descending), kolon sigmoid, dan rektum. Bagian kolon dari usus buntu hingga pertengahan kolon melintang sering disebut dengan “kolon kanan”, sedangkan bagian sisanya sering disebut dengan “kolon kiri” (http://id.wikipedia.org).
2. Patologi Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma, yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). Pada stadium awal, polip dapat diangkat dengan mudah. Tetapi, seringkali pada stadium awal adenoma tidak menampakkan gejala apapun sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama dan pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian dari usus besar (Davey, 2006 : 335).Kanker kolon dan rektum terutama (95 %) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam sturktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain ( paling sering ke hati). Kanker kolon dapat menyebar melalui beberapa cara yaitu :

Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih.
Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon.
Melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirakan darah ke system portal.
Penyebaran secara transperitoneal
Penyebaran ke luka jahitan, insisi abdomen atau lokasi drain. Pertumbuhan kanker menghasilkan efek sekunder, meliputi penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. Penetrasi kanker dapat menyebabkan perforasi dan abses, serta timbulnya metastase pada jaringan lain (Gale, 2000 : 177)

D. Klasifikasi
Klasifikasi kanker kolon menurut modifikasi DUKES adalah sebagai berikut (FKUI, 2001 : 209) :
A : kanker hanya terbatas pada mukosa dan belum ada metastasis.
B1: kanker telah menginfiltrasi lapisan muskularis mukosa.
B2:kanker telah menembus lapisan muskularis sampai lapisan propria.
C1: kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening sebanyak satu sampai empat buah.
C2:kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening lebih dari 5 buah.
D : kanker telah mengadakan metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas & tidak dapat dioperasi lagi.
E. Manifestasi klinik
Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Adanya perubahan dalam defekasi, darah pada feses, konstipasi, perubahan dalam penampilan feses, tenesmus, anemia dan perdarahan rectal merupakan keluhan yang umum terjadi.
1. Kanker kolon kanan,dimana isi kolon berupa caiaran, cenderung tetap tersamar hingga stadium lanjut. Sedikit kecenderungan menimbulkan obstruksi, karena lumen usus lebih besar dan feses masih encer. Anemia akibat perdarahan sering terjadi, dan darah bersifat samara dan hanya dapat dideteksi dengan tes Guaiak (suatu tes sederhana yang dapat dilakukan di klinik). Mucus jarang terlihat, karena tercampur dalam feses. Pada orang yang kurus, tumor kolon kanan mungkin dapat teraba, tetapi jarang pada stadium awal. Penderita mungkin mengalami perasaan tidak enak pada abdomen, dan kadang – kadang pada epigastrium.
2. Kanker kolon kiri dan rectum cenderung menyebabkan perubahan defekasi sebagai akibat iritasi dan respon refleks. Diare, nyeri kejang, dan kembung sering terjadi. Karena lesi kolon kiri cenderung melingkar, sering timbul gangguan obstruksi. Feses dapat kecil dan berbentuk seperti pita. Baik mucus maupun darah segar sering terlihat pada feses. Dapat terjadi anemia akibat kehilangan darah kronik. Pertumbuhan pada sigmoid atau rectum dapat mengenai radiks saraf, pembuluh limfe atau vena, menimbulkan gejala – gejala pada tungakai atau perineum. Hemoroid, nyeri pinggang bagian bawah, keinginan defekasi atau sering berkemih dapat timbul sebagai akibat tekanan pada alat – alat tersebut. Gejala yang mungkin dapat timbul pada lesi rectal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian, serta feses berdarah (Gale, 2000).
F. Pemeriksaan penunjang

Endoskopi:

pemeriksaan endoskopi perlu dilakukan baik sigmoidoskopi maupun kolonoskopi.

Radiologis

Pemeriksan radiologis yang dapat dilakukan antara lain adalah foto dada dan foto kolon (barium enema). Foto dada dilakukan untuk melihat apakah ada metastasis kanker ke paru
- Ultrasonografi (USG)
Sulit dilakukan untuk memeriksa kanker pada kolon, tetapi digunakan untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker ke kelenjar getah bening di abdomen dan hati.
- Histopatologi
Biopsy digunakan untuk menegakkan diagnosis. Gambar histopatologis karsinoma kolon adalah adenokarsinoma dan perlu ditentukan diferensiansi sel.
- Laboratorium
Pemeriksaan Hb penting untuk memeriksa kemungkinan pasien mengalami perdarahan (FKUI, 2001 : 210).

G. Penatalaksanaan medis

Bila sudah pasti karsinima kolon, maka kemungkinan pengobatan adalah sebagai berikut :
1. Pembedahan (Operasi)Operasi adalah penangan yang paling efektif dan cepat untuk tumor yang diketahui lebih awal dan masih belum metastatis, tetapi tidak menjamin semua sel kanker telah terbuang. Oleh sebab itu dokter bedah biasanya juga menghilangkan sebagian besar jaringan sehat yang mengelilingi sekitar kanker
2. Penyinaran (Radioterapi)Terapi radiasi memakai sinar gelombang partikel berenergi tinggi misalnya sinar X, atau sinar gamma, difokuskan untuk merusak daerah yang ditumbuhi tumor, merusak genetic sehingga membunuh kanker. Terapi radiasi merusak sel-sel yang pembelahan dirinya cepat, antara alin sel kanker, sel kulit, sel dinding lambung & usus, sel darah.Kerusakan sel tubuh menyebabkan lemas, perubahan kulit dan kehilangan nafsu makan.
3. kemotherapy Chemotherapy memakai obat antikanker yang kuat , dapat masuk ke dalam sirkulasi darah, sehingga sangat bagus untuk kanker yang telah menyebar. Obat chemotherapy ini ada kira-kira 50 jenis. Biasanya di injeksi atau dimakan, pada umumnya lebih dari satu macam obat, karena digabungkan akan memberikan efek yang lebih bagus (FKUI, 2001 : 211).

H. Konsep asuhan keperawatan

Pengkajian pasien Post Operatif Ca Colon (Doenges, 1999) adalah meliputi :

Sirkulasi

- Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).

Integritas Ego

- Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
- Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.

Makanan / cairan

- Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi)

Pernapasan

- Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.

Keamanan

- Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker /terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
- Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.

Penyuluhan / Pembelajaran

- Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).

Diagnosa
Pola nafas tidak efektif b/d imobilitas dan kondisi pasca anastesi
Perubahan proses pikir b/d perubahan kimia
Risti kekurangan volume cairan b/d pembatasan pemasukahn cairan tubuh
Nyeri b/d insisi pembedahan, trauma musculoskeletal
Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik
Kerusakan integritas kulit b/d luka pembedahan
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual, muntah
Ansietas b/d ancaman terhadap kosep diri
Kurang pengetahuan tentang kondisi luka b/d kurang informasi yang didapat

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

LP WAHAM

LAPORAN PENDAHULUAN

Masalah Utama.

Perubahan isi pikir : waham

1. Pengertian.

Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien.

Manifestasi klinik waham yaitu berupa : klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan, klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung

2. Proses terjadinya masalah

  1. Penyebab. Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan.
  2. Akibat. Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

3. Pohon masalah

Resiko menciderai orang lain

(akibat)

perubahan isi pikir

(core problem)

gangguan konsep diri: harga diri rendah

(penyebab)

4. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

  1. Masalah keperawatan :
    1. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
    2. Kerusakan komunikasi : verbal
    3. Perubahan isi pikir : waham
    4. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
  2. Data yang perlu dikaji :
    1. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
      • Data subjektif. Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-barang dan tidak mampu mengendalikan diri
      • Data objektif: Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar barang-barang.
    2. Kerusakan komunikasi : verbal
      • Data subjektif: Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
      • Data objektif: Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata kurang
    3. Perubahan isi pikir : waham ( ŅŅ.)
      • Data subjektif : Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
      • Data objektif: Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung
    4. Gangguan harga diri rendah
      • Data subjektif: Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri
      • Data objektif: Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup

5. Diagnosa Keperawatan

  1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham
  2. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham
  3. Perubahan isi pikir : waham (ŅŅŮ.) berhubungan dengan harga diri rendah.

6. Rencana Keperawatan

  1. kerusakan komunikasi verbalberhubungan dengan waham
    • Tujuan umum :
      1. Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
    • Tujuan khusus :
      1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan pe
        • Tindakan
          1. Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat
          2. Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima keyakinan klien “saya menerima keyakinan anda” disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
          3. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
          4. Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.
      2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
        • Tindakan :
          1. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
          2. Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
          3. Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri).
          4. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
      3. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
        • Tindakan :
          1. Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
          2. Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
          3. Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
          4. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
          5. Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.
      4. Klien dapat berhubungan dengan realitas
        • Tindakan :
          1. Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
          2. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
          3. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
      5. Klien dapat menggunakan obat dengan benar
        • Tindakan :
          1. Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat.
          2. Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
          3. Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
          4. Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
      6. Klien dapat dukungan dari keluarga
        • Tindakan :
          1. Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
          2. Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.
  2. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham
    • Tujuan Umum:
      1. Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
    • Tujuan Khusus:
      1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
        • Tindakan:
          1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
          2. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
          3. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
          4. Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab.
      2. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
        • Tindakan:
          1. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
          2. Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
          3. Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.
      3. Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan
        • Tindakan :
          1. Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
          2. Observasi tanda perilaku kekerasan.
          3. Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
      4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
        • Tindakan:
          1. Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
          2. Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
          3. Tanyakan “apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?”
      5. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
        • Tindakan:
          1. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
          2. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
          3. Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
      6. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
        • Tindakan :
          1. Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
          2. Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur.
          3. Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
          4. Secara spiritual : berdo’a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.
      7. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
        • Tindakan:
          1. Bantu memilih cara yang paling tepat.
          2. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
          3. Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
          4. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
          5. Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.
      8. Klien mendapat dukungan dari keluarga.
        • Tindakan :
          1. Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga.
          2. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
      9. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
        • Tindakan:
          1. Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping).
          2. Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).
          3. Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
  3. Perubahan isi pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah
    • Tujuan umum :
      1. Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya.
    • Tujuan khusus :
      1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
        • Tindakan :
          1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
          2. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
          3. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
          4. Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
      2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
        • Tindakan :
          1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
          2. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis
          3. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
      3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
        • Tindakan :
          1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
          2. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah
      4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
        • Tindakan :
          1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
          2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
          3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
      5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
        • Tindakan :
          1. Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
          2. Beri pujian atas keberhasilan klien
          3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
      6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
        • Tindakan :
          1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
          2. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
          3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
          4. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
Posted in Uncategorized | Leave a comment